Breaking News

Kembalinya Pasar Marema, Berharap Pemerintah Daerah Mencari solusi Yang Lebih Bagi Semua Pihak.







SUKABUMI," beritaekspos.com – Rencana digelarnya kembali Pasar Marema 2025 di Kota Sukabumi setelah 12 tahun vakum menimbulkan beragam reaksi. Bagi sebagian warga dan pelaku usaha kecil, pasar musiman ini menjadi tradisi Ramadan yang dinantikan, tetapi bagi pemilik toko di sekitar lokasi, keberadaannya dianggap mengancam pendapatan mereka.

Lisawaty, seorang pemilik toko di Jalan Harun Kabir, merasa keberatan dengan penyelenggaraan pasar ini. Menurutnya, keberadaan tenda-tenda pedagang yang memenuhi jalan membuat akses ke tokonya tertutup, sehingga berimbas pada penurunan omzet.

"Setiap Pasar Marema digelar, toko kami seperti mati suri karena tertutup tenda biru. Pelanggan sulit masuk, dan ini merugikan kami sebagai pemilik usaha tetap," keluhnya. Ia berharap pemerintah daerah dapat mencari solusi yang lebih adil bagi semua pihak.

Namun, tak sedikit warga yang justru menyambut baik kembalinya Pasar Marema. M. Ramdhan, warga Tipar Citamiang, menilai pasar ini bukan sekadar ajang belanja, tetapi juga peluang besar bagi para pelaku UMKM untuk meningkatkan pendapatan, sekaligus menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD).

"Tanpa Pasar Marema, pedagang kaki lima tetap akan berjualan secara liar. Jadi, lebih baik diatur dalam sebuah pasar resmi yang bisa mendukung ekonomi masyarakat sekaligus menyumbang PAD," ujarnya.

Menanggapi polemik ini, Budiono, salah satu panitia penyelenggara, memahami adanya perbedaan pendapat. Ia berharap pemerintah bisa memfasilitasi dialog antara pemilik toko dan pedagang agar ditemukan solusi terbaik.

"Kami ingin Pasar Marema tetap berjalan, tetapi tanpa merugikan pihak lain. Pemerintah perlu turun tangan untuk mencari jalan tengah yang adil," katanya.

Kini, keputusan akhir ada di tangan Pemerintah Kota Sukabumi. Akankah Pasar Marema kembali hadir sebagai bagian dari tradisi Ramadan, atau akan ada kebijakan baru yang mengakomodasi semua kepentingan? Masyarakat masih menunggu langkah pemerintah untuk menciptakan keseimbangan antara tradisi dan keberlangsungan ekonomi lokal.



OIS
BACA JUGA BERITA LAINNYA